
Kutukan Paling Kejam di Sepakbola Benfica Selalu Gagal di 8 Final Eropa, Ucapan Béla Guttmann Masih Menghantui
Tak semua kisah di dunia sepakbola bisa kita jelaskan dengan angka atau strategi. Terkadang, sebuah kutukan bisa lebih kuat dari taktik manapun. Begitulah yang terjadi pada SL Benfica—klub raksasa asal Portugal—yang sejak tahun 1962 tak pernah lagi mengangkat trofi Eropa. Banyak yang percaya bahwa semua ini bermula dari satu kalimat penuh amarah yang dilontarkan oleh Béla Guttmann, pelatih legendaris mereka.
Dari Kejayaan ke Kehancuran: Saat Gaji yang Ditolak Mengubah Sejarah Klub
Setelah membawa Benfica meraih dua gelar Piala Champions secara beruntun, Guttmann merasa dirinya pantas mendapatkan kenaikan gaji. Sayangnya, manajemen klub menolak permintaan tersebut. Merasa dikhianati, Guttmann pun memilih hengkang. Namun sebelum ia pergi, ia melontarkan kutukan yang kini menjadi legenda:
“Bahkan seratus tahun dari sekarang, Benfica tidak akan menjuarai Eropa lagi.”
Ucapan itu awalnya terdengar seperti ungkapan frustrasi. Tetapi, seiring berjalannya waktu, peristiwa demi peristiwa memperkuat keyakinan bahwa kutukan itu bukan omong kosong.
Gaya Bermain Revolusioner dan Penemuan Sang Legenda
Sebelum perpisahan tragis itu terjadi, Guttmann menciptakan taktik yang revolusioner untuk masanya—formasi 4-2-4 yang mengandalkan kecepatan dan agresi. Ia bahkan menemukan Eusebio secara tak sengaja di sebuah barber shop di Lisbon. Kemudian, ia membawa pemain muda itu ke Benfica dan mengubahnya menjadi legenda. Di bawah komandonya, Benfica berhasil mengalahkan Barcelona dan Real Madrid di dua final beruntun—prestasi yang belum pernah mereka ulangi hingga kini.
Deretan Final Penuh Luka: Delapan Kali ke Puncak, Delapan Kali Jatuh
Sejak kepergian Guttmann, Benfica terus mencoba menaklukkan Eropa. Namun, setiap kali mereka mendekati puncak, mereka justru tergelincir. Inilah delapan final Eropa yang mereka jalani—dan semuanya berakhir dengan kekalahan:
- 1963 vs AC Milan (1-2): Eusebio mencetak gol lebih dulu, tapi Milan membalas dua kali dan membalikkan skor.
- 1965 vs Inter Milan (0-1): Benfica tampil buruk di lapangan becek San Siro dan gagal mencetak gol.
- 1968 vs Manchester United (1-4 a.e.t.): Eusebio hampir memenangkan laga, tapi United bangkit di babak tambahan.
- 1983 vs Anderlecht (1-2 agregat): Setelah menanti 15 tahun, Benfica tetap gagal menuntaskan misi.
- 1988 vs PSV Eindhoven (0-0, kalah adu penalti): Kiper PSV menepis penalti krusial dan menggagalkan impian Benfica.
- 1990 vs AC Milan (0-1): Final digelar di Wina, kota tempat Guttmann dimakamkan, namun Benfica tetap kalah.
- 2013 vs Chelsea (1-2): Chelsea mencetak gol kemenangan di menit 93 dan membuyarkan segalanya.
- 2014 vs Sevilla (0-0, kalah adu penalti): Dua penendang Benfica gagal, dan Sevilla mengangkat trofi.
Kutukan Nyata atau Beban Psikologis?
Seiring bertambahnya jumlah final yang gagal dimenangkan, kutukan itu bukan hanya legenda—tapi terasa seperti kenyataan. Bahkan Eusebio dan pelatih-pelatih lain sempat mengunjungi makam Guttmann untuk “memohon pengampunan.” Namun, hasilnya tetap sama: Benfica tetap kalah.
Beberapa analis menilai bahwa kutukan hanyalah representasi dari tekanan psikologis yang menghantui para pemain Benfica. Ketika mereka melangkah ke final, mereka tidak hanya bertanding melawan tim lawan—tetapi juga melawan sejarah dan rasa takut akan kutukan itu sendiri.
Realita Finansial dan Dominasi Klub Elit Eropa
Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan faktor ekonomi. Setelah era 60-an, klub-klub dari Inggris, Spanyol, dan Italia berhasil mendominasi sepakbola Eropa dengan kekuatan finansial mereka. Benfica yang berasal dari liga yang lebih kecil jelas kesulitan bersaing dalam jangka panjang.
Namun tetap saja, kegagalan demi kegagalan yang Benfica alami terlalu unik untuk disebut “kebetulan biasa”.
Guttmann: Pahlawan dan Pengutuk dalam Satu Sosok
Para suporter Benfica memandang Guttmann sebagai tokoh paradoxal. Ia adalah arsitek kejayaan mereka, tetapi juga orang yang menyegel ambisi mereka dalam kutukan abadi. Namanya dikenang dalam dua wajah—pembawa kejayaan dan penyebab penderitaan.
Benfica Masih Punya Waktu… Tapi Sampai Kapan Harapan Bertahan?
Jika ucapan Guttmann terbukti benar, Benfica masih punya waktu hingga tahun 2062 untuk mengangkat trofi Eropa dan mematahkan kutukan itu. Namun setiap musim, harapan baru selalu hadir, dan begitu pula rasa takut yang tak pernah benar-benar pergi.
Selama trofi belum mereka angkat, Benfica akan terus membawa beban kutukan itu—dari ruang ganti, ke garis tengah, hingga titik penalti di final berikutnya.