John Herdman Tinggalkan Kanada untuk Indonesia Target Besar Bawa Garuda ke Piala Dunia
John Herdman bertekad tidak hanya datang dan melatih Timnas Indonesia sebentar, lalu pergi. Ia ingin tinggal lebih lama di Tanah Air untuk memahami karakter masyarakat, budaya lokal, dan nilai-nilai sepak bola Indonesia. Dengan cara ini, ia dapat membangun hubungan yang kuat dengan para pemain dan lingkungan sepak bola secara menyeluruh.
PSSI Tunjuk Herdman, Target Piala Dunia 2030
PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1). Mereka memberinya kontrak empat tahun dan tugas besar: membawa Garuda menembus Piala Dunia 2030, setelah gagal lolos ke edisi 2026. Penunjukan ini menunjukkan arah baru PSSI yang mengutamakan pengalaman pelatih di level internasional.
Herdman Mantap Menerima Tantangan
Herdman mengaku tertarik dengan proyek jangka panjang yang ditawarkan PSSI. Saat berbicara dengan media Kanada, The Canadian Press, ia menyatakan bahwa Indonesia mencari pelatih yang sudah terbiasa menghadapi tekanan kualifikasi Piala Dunia—keahlian yang telah menjadi bagian dari kariernya.
“Ini tentang menemukan proyek yang tepat, proyek dengan energi besar dari para penggemar. PSSI ingin mendatangkan pelatih yang sudah terbiasa dengan atmosfer kualifikasi Piala Dunia,” kata Herdman saat sedang berlibur di Meksiko.
Rekam Jejak Herdman: Dari Wanita ke Pria di Piala Dunia
John Herdman mencatat sejarah sebagai pelatih pertama yang berhasil membawa tim nasional pria dan wanita tampil di Piala Dunia. Ia mengarsiteki Timnas Putri Kanada dari 2011 hingga 2018 dan mengantar mereka ke perempat final Piala Dunia Wanita 2015. Setelah itu, Herdman menangani tim pria Kanada dan sukses lolos ke Piala Dunia 2022, sebuah prestasi langka bagi negara tersebut.
Indonesia Punya Potensi Besar
Herdman melihat Indonesia memiliki fondasi yang menjanjikan. Ia menilai kondisi sepak bola Indonesia mirip dengan Kanada: negara besar dengan banyak pemain lokal berbakat dan kesempatan untuk mengembangkan pemain keturunan atau dwikewarganegaraan.
“Potensi bakatnya sangat jelas. Indonesia memiliki banyak pemain lokal dan ruang untuk memaksimalkan pemain dwikewarganegaraan. Proses itu sudah berjalan, dan saya menilai ini sangat menarik,” ujar Herdman.
Lebih dari Sekadar Taktik, Herdman Ingin Menyatu
Berbeda dengan pelatih sebelumnya yang memilih kembali ke negara asal saat tidak ada agenda timnas, Herdman ingin menetap lebih lama di Indonesia. Ia percaya keberhasilan tim nasional berawal dari pemahaman budaya dan kedekatan emosional.
“Anda harus benar-benar memahami orang-orang, adat istiadat, dan cara hidup mereka. Hanya dengan begitu Anda bisa membangun koneksi yang kuat dengan pemain,” jelas pelatih berusia 50 tahun itu.
Agenda Awal: Debut di GBK dan Jadwal Padat
Herdman akan tiba di Jakarta pada pekan depan untuk diperkenalkan kepada publik. Ujian pertamanya adalah memimpin Timnas Indonesia di ajang FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada FIFA Matchday 23–31 Maret.
Setelah itu, ia akan memimpin Garuda menjalani rangkaian agenda FIFA Matchday pada Juni, September, Oktober, dan November. Herdman juga akan fokus menyiapkan tim untuk Piala AFF 2026, yang dijadwalkan dimulai pada 25 Juli 2026.
Dengan pengalaman Piala Dunia, pendekatan yang membumi, dan visi jangka panjang, Herdman memulai babak baru bersama Timnas Indonesia—tidak hanya sebagai pelatih, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang sepak bola nasional.
