Lamisha Musonda “Saya Sedang Berjuang untuk Tetap Hidup”
Dunia sepakbola kembali menerima kabar mengejutkan. Kali ini, Lamisha Musonda secara terbuka mengungkap kondisi kesehatannya yang mengkhawatirkan. Melalui unggahan di media sosial, mantan pemain muda Chelsea asal Belgia itu menyatakan bahwa dirinya kini berada dalam kondisi kritis dan sedang berjuang mempertahankan hidup. Seiring unggahan tersebut menyebar luas, gelombang simpati pun datang dari berbagai penjuru dunia sepakbola.
Dari Anderlecht ke Stamford Bridge
Pertama-tama, Lamisha Musonda memulai karier sepakbolanya di Belgia bersama akademi Anderlecht. Berkat bakat dan potensinya, ia kemudian menarik perhatian klub-klub besar Eropa. Pada 2012, Chelsea resmi merekrut Lamisha dan dua adiknya, Tika dan Charly Musonda, sebagai bagian dari proyek jangka panjang pengembangan pemain muda.
Meski demikian, Lamisha tidak pernah menembus skuad utama The Blues. Namun begitu, ia tetap merasakan atmosfer sepakbola elite dan menjalani proses pembinaan di salah satu klub terbesar Inggris.
Pensiun Dini di Usia 27 Tahun
Selanjutnya, perjalanan Lamisha di lapangan hijau berakhir jauh lebih cepat dari perkiraan. Pada 2019, ia memutuskan pensiun di usia 27 tahun, sebuah usia yang biasanya masih menjadi fase emas pesepakbola profesional.
Sementara itu, kedua adiknya memilih jalur berbeda. Charly Musonda sempat mencatatkan tujuh penampilan bersama tim utama Chelsea sebelum hengkang pada 2022. Namun, cedera yang datang silih berganti akhirnya memaksanya pensiun pada musim panas 2025. Di sisi lain, Tika Musonda tetap berkecimpung di dunia sepakbola dan kini menjalani peran sebagai pemandu bakat global di Liverpool.
“Saya Sulit Memulihkan Kesehatan Saya”
Dalam unggahan Instagram berikutnya, Lamisha berbicara secara jujur dan terbuka tentang fase terberat dalam hidupnya. Ia menegaskan bahwa beberapa tahun terakhir ia habiskan dalam kondisi penuh rasa sakit dan kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Selain itu, ia mengakui bahwa proses pemulihan kesehatannya tidak berjalan sesuai harapan.
Lebih lanjut, Lamisha menyebut bahwa kondisinya kini telah memasuki tahap kritis. “Saat ini saya benar-benar sedang berjuang untuk tetap hidup,” tulisnya, sembari meminta doa dan dukungan dari publik.
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Meski menghadapi situasi yang sangat berat, Lamisha tetap menunjukkan tekad kuat untuk bertahan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan menyerah dan akan terus melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya hingga napas terakhir.
Di saat yang sama, ia mengungkap rasa sedih karena mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk mengucapkan terima kasih secara langsung kepada semua orang yang pernah berperan dalam hidupnya. Kendati demikian, ia memastikan bahwa rasa cinta dan penghargaan kepada mereka tetap utuh.
Dukungan Mengalir dari Dunia Sepakbola
Tak lama setelah unggahan itu terbit, pesan dukungan pun mengalir deras. Romelu Lukaku, top skor sepanjang masa tim nasional Belgia sekaligus mantan penyerang Chelsea, secara terbuka menyampaikan dukungan moral kepada Lamisha.
Selain itu, mantan direktur Chelsea, Marina Granovskaia, turut mengirimkan pesan doa dan harapan agar Lamisha mampu melewati masa sulit ini bersama keluarganya.
Pesan Penutup yang Menggetarkan
Setelah menerima ribuan pesan penuh empati, Lamisha kembali menulis unggahan lanjutan. Dalam pesannya, ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan serta mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan semua pihak yang mengirimkan doa dan energi positif.
Lebih jauh, Lamisha menilai sepakbola dan pendidikan sebagai guru kehidupan yang telah membentuk karakternya. Ia berharap publik kelak mengenangnya bukan karena prestasi semata, melainkan karena orang-orang baik yang pernah ia temui sepanjang perjalanan hidup, mulai dari rekan setim dan pelatih hingga sosok-sosok sederhana di balik layar.
Menjalani Hari demi Hari
Hingga kini, Lamisha Musonda masih memilih untuk tidak mengungkap secara spesifik penyakit yang ia derita. Namun demikian, ia tetap memegang satu prinsip sederhana yang terus ia sampaikan kepada publik:
“Mari kita menangkan setiap hari, satu per satu.”
Kalimat tersebut kini menjadi penegasan sikap dan simbol perjuangan Lamisha dalam menghadapi pertandingan terberat sepanjang hidupnya.
